SAINS

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Sabtu, 30 Juni 2018

PENGEMBANGAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK DALAM MENTRANSFER DAN MENTRANSMISIKAN LISTRIK DENGAN METODE RESONANSI DAN SINAR LASER


KAPITA SELEKTA
PENGEMBANGAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK DALAM MENTRANSFER DAN  MENTRANSMISIKAN  LISTRIK DENGAN METODE RESONANSI DAN SINAR LASER


Disusun Oleh :
Nama   : Muh. Asrianto T.
                     Nim      : 60400114029

JURUSAN FISIKA FAKULTAS SANIS & TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN AJARAN 2017



I.    PENDAHULUAN
I.1.   LATAR BELAKANG
Semakin pesatnya perkembangan teknologi secara global saat ini merupakan sebuah fenomena yang tak terbendung. Hal ini menyebabkan teknologi nirkabel/tanpa kabel (wireless) juga mengalami perkembangan yang signifikan, karena kebutuhan manusia akan medium komunikasi. Tak hanya sampai pada titik dimana teknologi nirkabel menjadi medium komunikasi, teknologi jenis ini merambah pada sektor-sektor yang lain. Bahkan pada sektor transfer daya, beberapa perusahan ternama telah berhasil mewujudkan hal ini. Dengan adanya teknologi nirkabel yang digunakan untuk transfer daya, maka manusia akan dimudahkan dalam sisi praktis transfer daya.  Salah satu ilmuwan paling fenomenal pada abad 19, Pengiriman energi listrik wireless pertama kali dibuktikan oleh nikola tesla pada tahun 1893,energi wireless dengan membangun menara Wardenclyffe di Shoreham, Long Island, yang berfungsi sebagai sarana telekomunikasi nirkabel dan pengiriman daya listrik. Nikola Tesla mampu mengirimkan energi listrik wireless dari menara Wardenclyffe untuk menyalakan sebuahlampu pijar.

Nikola Tesla melakukan penelitian transfer, telah membuktikan teorinya tentang transfer daya tanpa kabel dengan menunjukkan penemuan-penemuan yang telah dilakukannya. Penemuan-penemuannya terkait transfer daya nirkabel ini ternyata menuai banyak kritik dari ilmuwan-ilmuwan ternama yang lain. Mengingat tingkat dampak yang ditimbulkan belum teruji pada lingkungan organisme. Salah satu dampak transfer nirkabel yang secara ilmiah dapat dikaji adalah dampak medan elektromagnetik. Hal inilah yang kemudian menyebabkan penelitian semacam ini cenderung tidak berkembang bahkan hingga menjelang abad 21. Namun pada akhirnya, sebuah universitas asal Amerika Serikat, MIT (Massachusetts Institue of Technology), mendorong para penelitinya untuk mempelajari transfer daya secara nirkabel. Semangat yang terdorong pada sekitar tahun 2017 ini pada akhirnya menemukan titik terangnya dan menginspirasi beberapa lembaga teknologi untuk memproduksi teknologi transfer daya secara massal ke publik. Namun, nilai efisiensi transfer daya nirkabel masih menjadi masalah yang serius, mengingat efisiensinya belum dapat setara dengan teknologi transfer daya melalui kabel. Teknologi transfer daya nirkabel ini hanya mampu mencapai titik efisiensi dibawah 40% dengan jarak 2 meter pada awalnya. namun dengan ketekunan para peneliti pada tahun 2017, efisiensi sudah melebihi 40% dengan daya 60 Watt berjarak 2 meter (Kurs, 2007). Pada titik inilah teknologi transfer daya nirkabel mulai berkembang.

I.2.   RUMUSAN MASALAH
a.       Apa yang dimaksud gelombang elektromagnetik?
b.      Bagaimana metode resonansi induktif pada medan magnet?
c.       Bagaimana metode sinar laser pada gelombang elektromagnetik?

I.3.   TUJUAN PENULISAN
a.         Mengetahui pengembangan gelombong elektromagnetik dalam pemanfaatan listrik tanpa kabel.
b.        Mampu memahami penggunaan metode resonansi induktif pada gelombang elektomagnetik.
c.         MenetahuI dan memahami metode sinar laser pada gelombang elektromagnetik.
I.4.   MANFAAT PENULISAN
a.         Menyelesaikan studi pustaka
b.        Dapat megunakan energi listrik tanpa menggunakan kabel
I.5 Batasan Masalah
a.     Sinar laser yang digunakan pada  ini adalah laser dioda
b.        Menggunakan resonansi kopling

II.    TINJAUAN PUSTAKA

II.1  GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
(Menurut ensiklopedia ) Radiasi elektromagnetik adalah kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat melewati ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Cahaya tampak adalah salah satu bentuk radiasi elektromagnetik. Penelitian teoretis tentang radiasi elektromagnetik disebut elektrodinamik, Setiap muatan listrik yang memiliki percepatan memancarkan radiasi elektromagnetik. Ketika kawat (atau panghantar seperti antena) menghantarkan arus bolak-balik, radiasi elektromagnetik dirambatkan pada frekuensi yang sama dengan arus listrik. Bergantung pada situasi, gelombang elektromagnetik dapat bersifat seperti gelombang atau seperti partikel.
Menurut  Young, Hugh D dan Roger Freedman (2001). Dalam jurnal yang ditulis oleh Berri M Panggabean, dkk yang berjudul (Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless Dengan Menggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan Elektromagnetik). Induksi elektromagnetik adalah peristiwa  timbulnya GGL (Gaya Gerak Listrik) pada suatu penghantar atau kumparan akibat mengalami perubahan garis-garis gaya magnet (fluks magnetik).
Menurut percobaan Michael Faraday, medan magnet yang berubah-ubah nilai fluksnya dapat menghasilkan arus listrik. Faraday menyimpulkan medan magnet konstan tidak dapat menghasilkan arus, namun perubahan fluks medan magnetik di dalam suatu rangkaian bahanpenghantar akan menimbulkan tegangan induksipada rangkaian tersebut (hukum faraday).

II.2      INDUKSI ELEKTROMAGNETIK
Menrut Farizqi, R.,   (2014). Dalam jurnal Rahmad Hidayat  yang berjudul (Sumber Daya Wireless Untuk Menghasilkan Energi Listrik Terbarukan) Pada transmisi listrik dengan induksi  elektromagnetik , adanya arus listrik ke salah satu kumparan yang berdekatan menginduksi kekuatan listrik dalam kumparan lain dengan fluks magnetik sebagai medium. Sementara dalam transmisi daya wireless melalui penerimaan frekuensi radio, energi gelombang radio yang dikirim dan diterima menggunakan antena dan bentuk gelombang bolak-balik dari frekuensi radio diubah menjadi bentuk gelombang arus searah/DC (Direct Current) dengan menggunakan rangkaian  penyearah (rectifier), dalam hal ini di sini tanpa menggunakan amplifier”.

Menrut Valone, F, Thomas. (2003). yang ditulis oleh Berri M Panggabean (Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless Dengan Menggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan  Elektromagnetik “Induktansi sendiri adalah munculnya tegangan listrik pada suatu kumparan pada saat terjadinyperubahan arus. Apabila suatu kawat penghantaberpotongan dengan medan magnet, maka akan terjadi tegangan pada kawat tersebut.”

Menrut  Koenraad van Schuylenbergh, Robert Puers,( 2009), dalam jurnal yang ditulis oleh Firdaus, Tyo Fabian Fadel (Pengaruh Sudut Antar Kumparan Pada Transfer DayaNirkabel Menggunakan Metode Induksi Medan Dekat.”Induksi elektromagnetik adalah sebuah medan magnet yang dihasilkan melalui kumparan sehingga timbul fluks magnet. Interaksi garis gaya magnet dapat diilustrasikan pada gambar 2.Induksi magnetik dibatasi oleh persamaan gaya terhadap muatan yang bergerak dengan persamaan :
Gambar 1. Induksi Magnetik Pada Trafo Inti Besi
                              Tyo Fabian Fadel.2014. Rancang Bangun Pengisi Daya Baterai Nirkabel  Menggunakan Metode Induksi Medan-Dekat .Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia JalanKaliurang km. 14,5  Sleman, Jogjakarta 55501

Induksi magnetik adalah besaran vektor. Induksimagnetik ß, kecepatan normal V sin ф dan gayamagnetik F tegak lurus satu sama lain. Induksi magnetik sebenarnya berasal dari hukum elektromagnet yang pernah dilakukan oleh faraday. Faraday menemukan bahwa arus listrik dapat dihasilkan dari perubahan medan magnet. Peristiwa dihasilkannya arus listrik akibat adanya perubahan medan magnetik dinamakan induksi elektromagnetik.
                Persamaan GGL induksi yang memenuhi hukum faraday adalah sebagai berikut : 

Keterangan :
N        = jumlah lilitan
∆f/∆t  =  laju perubahan fluks magnetik (wb/s)

Menrut  Paul Hendry Ginting, dkk, (2009). dalam jurnalnya yang berjudul perancangan automatic transfer switch (ats)parameter transisi berupa tegangan dan frekuensi dengan mikrokontroler atmega 16. “Proses Transfer Catu Daya Inisiasi Transfer Dalam mode otomatis,  ATS mampu merespon terhadap kegagalan sumber utama dengan menginisiasi /mengaktifkan sumber cadangan. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya tegangan bisa dilakukan dengan menggunakan Undervoltage Relay seperti untuk mendeteksi kondisi tegangan. Hal ini dapat dicapai dengan menurunkan tegangan dari sumber hingga mencapai tegangan dengan nilai tertentu yang masih dapat terbaca oleh ADC pada mikrokontroler.”
Gambar 2.  Skema kerja ATS(Automatic Transfer Switch)
Paul Hendry Ginting, dkk, (2009). dalam jurnalnya yang berjudul perancangan automatic transfer switch (ats)

II.3       RESONANSI INDUKTIF MEDAN ELEKTROMAGNETIK

Menurut  Rakesh, K, K. 2013..Dalam jurnal yang ditulis oleh Berri M Panggabean,dkk yang berjudul ( Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless Dengan Menggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan Elektromagnetik).Penggunaan resonansi induktif medan elektromagnetik untuk meningkatkan bandwith gelombang medan elektromagnetik dengan menggunakan frekuensi yang sama antara sinyal pengirim dan sinyal penerima, sehingga jarak pengiriman energi listrik wireless menjadi lebih jauh dengan efisiensi daya yang lebih tinggi. Frekuensi yang digunakan menggunakan frekuensi tinggi menggunakan rangkaian osilator (variasi dan gabungan dari komponen kapasitor,induktor, dan transistor).

Menurut Supriady (2013)dalam jurnalnya yang berjudul  Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal "Perhitungan frekuensi resonansi dan induktansi merupakan perhitungan yang digunakanuntuk mengetahui nilai induktansi lilitan pada rangkaian transmitter dan masing-masinglilitan pada rangkaian receiver.Nilai dari induktansi tersebut digunakan untuk mengetahui nilai frekuensi resonansi pada rangkaian transmitter dan masing-masing rangkaianreceiver.Data lilitan pada rangkaian transmitter dan receiver adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Spesifikasi Rangkaian
Jenis rangkaian
Panjang (m)
N
C(farad)
A (mm2)
Pemancar
0.3
1
40.8  x 10-9
28.26

Penerima
0.3
1
34  x 10-9
28.26


Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Dimana:   
     I = Panjang lilitan (M)
    N = Jumlah lilitan
    C = kapasitor (Farad)
                       Kemudian pada tahun 2007,adalah fisikawan MIT, Marin Soljacic, ang menemukan              fenomena induksi resonansi frekuensi. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Science bulan Juli                 2007. Dengan induksi magnetic magnet, Soljacic dan timnya dapat membuktikan bahwa                     sebuah    bolam lampu 60 watt, pada jarak 2 meter (6.6 feet), bisa menyala hanya dengan                     bantuan kumparan kawat berdiamter 50 centimeter. Lampu bahkan tetap menyala ketika                       sebilah      papan menghalanginya dari kumparan kawat yang berperan sebagai resonator.                   Teknologi temuan   mereka diberi namaWiTricity (Wireless Electricity) atau Wireless Power                 transfer, mentransfer daya listrik tanpa kabel.  

II.4     SINAR LASER
 Menurut ensiklopedia (2012). Laser (singkatan dari bahasa Inggris: Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) merupakan mekanisme suatu alat yang memancarkan radiasi elektromagnetik, biasanya dalam bentuk cahaya yang tidak dapat dilihat maupun dapat lihat dengan mata normal, melalui proses pancaran terstimulasi. Pancaran laser biasanya tunggal, memancarkan foton dalam pancaran koheren. Laser juga dapat dikatakan efek dari mekanika kuantum.

Menurut Wijaya  Widjanarka  N (2011).dalam jurnalnya yang berjudul  Sinar Laser Sebagai Pengganti  Kawat Logam Dalam Menghantarkan Energi Listrik (Wireless Transfer Energi) “Penelitian ini merupakan studi awal menciptakan prototype Wireless Energy Transfer. Wireless Energy Transfer adalah perpindahan tenaga listrik tanpa kawat, suatu proses di mana tenaga listrik dipancarkan dari suatu tempat (batere) ke satu tempat yang lainnya, dengan jarak yang jauh tanpa kawat yang menghubungkan. Tanpa menggunakanjaringan kabel, karena tidak lagi merambati kabel tembaga seperti biasnya, arus listrik itu jadi seperti melompat langsung,menembus udara.” 

Menurut Uiga, (1995) dan Widjanarka, (2013). Media tranfernya menggunakan sinar, maka sinar yang digunakan adalah sinar Laser. Karena sinar Laser bersifat koherant.”Pemancar optic (optical transmitters ) dan penerima cahaya (optical  receivers)dengan mengubah dari energi listrik menjadi energi cahaya untuk dipancarkan.Penerima mengubah kembali dari energi cahaya menjadi energi listrik.Sinar laser ini menyalurkan energi dari sumber ke beban yang diinginkan. Sinar ini mampu mentransmisikan denganmenembus kaca, tanpa harus melubangi. Tidak terjadi lagi masalah atau kelemahan yang terjadi pada kawat tembaga, yaitu sering terbelit, terjadi hubung singkat dan harga logam seperti tembaga dan aluminium semakin mahal.  
III.   METODE PENULISAN
            Metode yang digunakan adalah studi pustaka
   Pengupulan data  dari beberapa referensi adpun literatur yang diambil bersumber dari skripsi, jurnal ilmiah, dan buku materi lainya.  sebagai berikut :
Ø  Sinar Laser Sebagai Pengganti  Kawat Logam Dalam Menghantarkan Energi Listrik (Wireless Transfer Energi) menggunakan metode sinar laser

Ø  Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . menggunakan metode frekuensi resonansi dan induktansi dan studi literatur.
Ø  Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless Dengan Menggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan Elektromagnetik .menggunakan metode  solusi resonansi
induktif elektromagnetik pada rangkaian pengirim dan rangkaian penerima.
Ø  Perancangan Automatic Transfer Switch (Ats)Parameter Transisi Berupa Tegangan Dan Frekuensi Dengan Mikrokontroler Atmega 16. Menggunakan metode ATS (Automatic TransferSwitch).
Ø  Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) metode ekperimen resonansi dan pengujian laboratorium
Ø  Pengaruh Sudut Antar Kumparan Pada Transfer Daya Nirkabel Menggunakan Metode Induksi Medan-Dekat. Menggunakan metode resonansi induksi.

Mereview jurnal dengan menggunakan dua metode yaitu sianr laser dan resonansi dan menganalisis literatur yang telah dikumpulkan.
IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL DENGAN METODE RESONANSI
                        Hubganan tegangan,dengan sudut kemiringan 
Gambar 3. Grafik Hubungan antara Tegangan dan Sudut kemiringan pada Rangkaian RX saat V . 11 V dan 13 V
Berri M Panggabean, Herman Halomoan, Nining Purwasih.2011. Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless DenganMenggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan Elektromagnetik :Jurusan Teknik Elektro Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145 

Dari grafik pada gambar 4 menunjukkan nilai tegangan yang mampu dikirim dipengaruhi oleh sudut kemiringan kumparan RX. Semakin besar kemiringan sudut fasa kumparan RX, maka energi yang mampu dikirimkan akan semakin kecil. Hal ini disebabkan karena fluks medan magnet yang diterima kumparan RX antara 1 < B = ½  kali fluks medan magnet yang dihasilkan kumparan TX. 
 Saat sudut 0o  maka fluks yang diterima bernilai maksimal. Saat kumparan penerima berada di ujung kumparan pengirim (sudut 90), fluks medan magnet berkurang  ½  dari fluks medan magnet yang mampu dikirim, sehingga energi listrik yang mampu diterima hanya 1/2o  dari energi.
yang dikirimkan. Hal ini karena perubahan fluks medan magnetik mempengaruhi perubahan nilai induksi bersama antar kumparan. Semakin kecil nilai fluks yang mampu diterima, maka semakin kecil nilai induksi bersama antara kumparan pengirim dan kumparan penerima.   Perubahan nilai induksi mempengaruhi energi medan magnet yang mampu disimpan kumparan penerima.Semakin kecil energi medan magnet yang diterima, maka semakin kecil energi medan magnet yang dapat dikonversi menjadi energi listrik.
 Hasil Pengujian Lilitan Penerima Luas Penampang 28.26 mm dengan tidak menggunakan beban lampu


JARAK(cm)
Pemancar
Penerima

Tegangan
(V)

Arus    (A)
Daya
(W)
Tegangan                        (V)
10
19
4.74
90.06

35.2

8
19
4.74
90.06

40.6

6
19
4.74
90.06

45.1

4
19
4.74
90.06

47.9

       2
           19
       4.74
   90.06

            50.8

Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Hasil Grafik yang diperoleh
Gambar 5. Grafik Pengukuran Tegangan Dengan Jarak
Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Gambar 5 menunjukkan bahwa semakin dekat jarak transmitter dengan receiver maka semakin besar tegangan yang dihasilkan. Contoh pada beban 100 Watt dengan jarak 2 cm mampu menerima tegangan 8.7 V pada jarak 4 cm tegangan yang diterima berkurang 2.5 kali lipat, pada jarak 6 cm tegangan yang diterima berkurang 8 kali lipat, pada jarak 8 cm tegangan yang diterima berkurang 17 kali lipat dan pada jarak 10 cm tegangan yang diterima berkurang mencapai 29 kali lipat.
Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
          Gambar 6 menunjukkan bahwa semakin dekat jarak transmitter dengan receiver maka semakinbesar Arus yang dihasilkan. Contoh pada beban 100 Watt dengan jarak 2 cm mampu menerimaArus 4.12Ampare pada jarak 4 cm Arus yang diterima berkurang 1.5 kali lipat, pada jarak 6 cmArus yang diterima berkurang 2.4 kali lipat, pada jarak 8 cm Arus yang diterima berkurang 3.4kali lipat dan pada jarak 10 cm Arus yang diterima berkurang mencapai 4.9 kali lipat.
Gambar 7.Grafik Pengukuran Daya Dengan Jarak
Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Gambar 7 menunjukkan bahwa semakin dekat jarak transmitter dengan receiver maka semakin besar daya yang dihasilkan. Contoh pada beban 100 Watt dengan jarak 2 cm mampu menerima daya sebesar 35.8 watt  pada jarak 4 cm daya yang diterima berkurang 3.9 kali lipat, pada jarak 6 cm tegangan yang diterima berkurang 19 kali lipat, pada jarak 8 cm tegangan yang diterima berkurang 59 kali lipat dan pada jarak 10 cm tegangan yang diterima berkurang mencapai 143 kali lipat.

             Hubungan Variasi Kapasitor dengan kecepatan putaran kompas
 Gambar berikut menunjukkan perubahan kecepatan putaran kompas pada rangkaian medan putar. Pada gambar tersebut dapat diketahui kenaikan kenaikan putaran kompas seiring dengan dinaikkannya nilai kapasitor. Kompas tersebut mulai berputar dengan kapasitor 5.53 uF dengan kecepatan 408,7 RPM dan mengalami titik jenuh pada nilai kapasitor  41.22 - 56.9 uF. 
Gambar 8. Hubungan antara variasi kapasitor dan kecepatan putaran kompas
(Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek)

Dilihat pada grafik di atas jarum kompas sulit untuk berputar pada nilai kapasitor dibawah uF dan semakin dinaikkan nilai kapasitor maka start putaran awal semaikn mudah. Namun demikian bukan berarti nilai C yang semakin besar memudahkan jarum kompas berputar, hal ini disebabkan pada rangkaian RLC dimungkinkan terjadi peristiwa resonansi. Dimana lilitan utama dan lilitan bantu mengalami frekuensi yang sama, sehingga sefase.
             Hubungan antara variasi kapasitor dan amplitudo pada belitan bantu
 Pada percobaan rangkaiann medan putar dapat diketahui bahwa adanya perubahan amplitude ketika nilai kapasitor dinaikkan. Semakin besar nilai kapasitor maka semakin besar pula amplitude pada belitan bantu. Gambar berikut menunjukkan hsail pengukuran menggunakan oscilloscope hubungan antara variasi kapasitor dan perubahan amplitude pada belitan bantu.


Gambar 9. Hubungan antara variasi kapasitor dan aplitudo pada belitan bantu

                       Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek
Dari gambar diatas diperoleh kesimpulan bahwa amplitude mengalami kondisi jenuh pada nilai kapasitor 48.5 - 56.9 uF.
              Hubungan antara variasi kapasitor dan pergeseran fase antar belitan
             Pengaruh nilai kapasitor juga mempengaruhi perbedaan fase antara belitan utama dan belitan bantu. Semakin besar nilai kapasitor maka beda fase antar belitan juga semakin kecil.

Gambar 10. Hubungan antara variasi kapasitor dan pergeseran fase antar belitan

                       Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar                          Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek
                  Hubungan Amplitude Belitan Bantu Dan Putaran Kompas 
 Pada percobaan yang dilakukan dapat dilihat adanya perubahan putaran kompas yang seiring dengan perubahan amplitude pada belitan bantu. Semakin  tinggi amplitude pada belitan bantu, maka semakin cepat pula putaran kompas. Namun pada nilai amplitude 16.115 - 15.235 Volt kondisi jenuh putaran kompas yaitu 3007 RPM .
Gambar 11. Hubungan amplitude belitan bantu dan putaran kompas
                         Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek.
        TRANSMISI ENERGI LISTRIK DENGAN SINAR LASER DIODE SEBAGAI MEDIA             PENGGANTI KABEL

       1.       Pengukuran Karakteristik VI Dioda.  Berdasarkan hasil percobaan membuktikan, bahwa      diode Laser, memiliki karakteristik Tegangan terhadap Arus (Voltage vs Current), sebagai   berikut:    
Gambar 12. Hasil percobaan disajikan  dalam Graphics Characteristic VI  Laser Diode.
        Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek

                 Tentang Pengukuran Fluks  Percobaan dilakukan dengan mengukur besarnya fluks, yaitu intensitas kuat cahaya, pada jarak R, yang merupakan jarak antara sumber energi dengan Fluxmeter,  dalam hal ini sinar Laser, setiap meter.   
Gambar 13. Susunan alat yang digunakan dalam percobaan, untuk mengukur besaran yang akan diuji.
        Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek
Hasil Percobaan Dinyatakan Dengan Grafik Berikut
Gambar 14. Hasil percobaan berupa Graphics Characteristic VI Laser Diode.
              Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek.

      2.   Percobaan Perbandingan Daya  (Power VI) Terhadap Jarak (meter), Tanpa Beban Daya LED 
                     Berdasarkan hasil percobaan  menghasilkan, bahwa diode Laser, memiliki karakteristik      Perbandingan Daya Terhadap Jarak (meter), dengan tanpa beban daya LED sebagai berikut:
Gambar 15. Pada percobaan ini,  terlihat daya listrik bertambah, sewaktu jaraknya bertambah jauh.
                    Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin                    Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika:SMK Negeri 1 Trenggalek

Hal ini disebabkan karena pada jarak dekat permukaan photovoltaic belum seluruhnya diterpa cahaya laser. Dalam percobaan ini, daya yang diukur  adalah kapasitas daya Volt-Amper atau VI.


3.  Percobaan Perbandingan Daya (Power  VI) Terhadap Jarah (meter), Dengan                               Beban  Daya LED

    Berdasarkan hasil percobaan  menghasilkan, bahwa diode Laser, Memili ki       karakteristik Perbandingan Daya Terhadap Jarak (meter), dengan beban daya LED sebagai   berikut:


Gambar 16. Pada percobaan ini, diberi beban (load) LED
                  Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin                Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek
terlihat daya listrik sedikit bertambah,ketika pada jarak 5 meter tiba-tiba melonjak menjadi besar. Setelahnya menjadi stabil besarnya. 
                           Gambar 17.  Prototype yang dibuat.
                Jarot Suseno, Achsanul Khabib, Miftakhul Huda .2014. Analisis Teori Resonansi Pada Medan Putar Mesin Listrik 1 Phasa (Pengembangan Media Pembelajaran Fisika) :SMK Negeri 1 Trenggalek

V.    PENUTUP
       V.1  KESIMPULAN

             Sinar laser dapat digunakan untuk mengirimkan energi listrik, menggantikan kawat logam dan perpindahan energi listrik dapat dilakukan dari satu tempat ke tempat lainnya yang berjauhan jaraknya. daya listrik bertambah, sewaktu jaraknya bertambah jauh. Hal ini disebabkan karena pada jarak dekat permukaan photovoltaic belum seluruhnya diterpa oleh cahaya laser. Sedangkan pada transfer energi listik dengan induksi resonansi dengan beberapa perbandingan yaitu  Resonansi osilasi LC sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pengiriman energi. Semakin besar jarak antar kumparan, maka semakin kecil tegangan yang mampu ditrasfer secara wireless.  perbedaan beban dan jarak akan menghasilkan nilai efisiensi yang bervariasi. Dari jarak 2 hingga 10 cm, kita dapati bahwa semakin dekat jarak antara transmitter dn receiver akan menghasilkan efisiensi yang semakin tinggi pula, begitu pun sebaliknya. Tak hanya perbedaan jarak yang akan memperngaruhi nilai efisiensi transfer energi listrik ini, perbedaan beban pada sisi receiver juga mempengaruhi seberapa besar nilai  yang ditransfer. 


 DAFTAR PUSTAKA

Rahmad Hidayat .2016. Sumber Daya Wireless Untuk Menghasilkan Energi Listrik Terbarukan .Jurusan Teknik Elektro, Sekolah Tinggi Teknologi Mandala. SINERGI Vol. 20, No. 2, Juni 2016: 109-114

Supriady.2017. Perancangan Transmisi Listrik Wireless Menggunakan Dua Kumparan Metal . FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Tyo Fabian Fadel.2014. Rancang Bangun Pengisi Daya Baterai Nirkabel
Menggunakan Metode Induksi Medan-Dekat .Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia JalanKaliurang km. 14,5 Sleman, Jogjakarta 55501

Berri M Panggabean, Herman Halomoan, Nining Purwasih.2011. Perancangan Sistem Transfer Energi Secara Wireless DenganMenggunakan Teknik Resonansi Induktif Medan Elektromagnetik :Jurusan Teknik Elektro Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145

Valone, F, Thomas. 2003. Tesla’s Wireless Energy For the 21st Centur. ExtraOrdinary Technology Volume 1, Issue 4.

Rakesh, K, K. 2013.Wireless Power Transmission. Seminar Presented by Rakesh K.K.4NM07EC080, Department of Electronics and Communication Engineering NMAM Institute of Technology Nite, Paneer, Deralakatte, Karnataka 574160, India.

Hidayat, R.  Model, Simulasi dan Analisis Pola Radiasi Susunan Uniform Antena Mikrostrip, Jurnal Isu Teknologi, STTM,  Bandung. 2015; 9 (1): 3-11.

Firdaus, Tyo Fabian Fadel.2010.  Pengaruh Sudut Antar Kumparan Pada Transfer Daya Nirkabel Menggunakan Metode Induksi Medan-Dekat :Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

0 komentar: